Oleh: Dr. Mahmud Syaltout*
Kita hidup di negeri yang unik. Gorengan itu budaya. Bukan cuma bakwan, tahu isi, atau tempe mendoan. Di pasar modal pun gorengan hidup subur, kadang lebih kreatif dari menu warung.
Bedanya, gorengan di warung masih punya etika. Penjual biasanya jujur: ini panas, ini baru diangkat. Gorengan di bursa sering sudah dingin, berminyak, dan baunya mulai aneh, tapi tetap dijual sebagai “cerita masa depan”. Anehnya, selalu ada saja yang percaya. Barangkali karena cerita memang lebih murah daripada kenyataan.
Gorengan di warung bikin kolesterol naik pelan-pelan. Gorengan di bursa bikin jantung investor ritel sering langsung tidak enak. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, sering tanpa permintaan maaf.
Dan seperti biasa, semuanya ditutup dengan kalimat paling Indonesia:
“Ya namanya juga pasar.”
Kalimat itu biasanya keluar sambil senyum pahit, menatap layar merah, lalu pindah aplikasi. Bukan untuk cari peluang, tapi supaya emosi tidak ikut trading.
Padahal, kalau mau jujur, sering kali itu bukan pasar. Itu ladang jebakan yang sudah lama dibungkus narasi “risiko”.
Beberapa bulan terakhir, publik menyaksikan tontonan yang menarik: Mas Purbaya berhadapan dengan saham gorengan. Banyak orang sempat mengira ini cuma komentar pejabat lewat. Datang, bunyi, lalu hilang.
Perkiraan itu meleset.
Situasi ini lebih mirip orang baru masuk dapur, melihat minyak hitam, wajan berkerak, lalu bertanya dengan nada datar tapi bikin ruangan hening:
“Ini kok masih dipakai?”
Supaya tidak cuma mengandalkan perasaan, datanya dibuka.
Percakapan publik digital dari awal Oktober 2025 sampai akhir Januari 2026 ditarik dan dianalisis. Hasilnya bukan sekadar ramai. Ledakannya terasa.
Total percakapan menyentuh 1,39 ribu mentions, dengan rata-rata 11 per hari. Jangkauan mencapai sekitar 3,41 miliar, rata-rata 28,2 juta per hari. Angka sebesar ini tidak lahir dari isu receh. Isu seperti ini muncul saat kepercayaan mulai bocor dan baunya tercium ke mana-mana.
Sumber percakapannya juga jelas. Media online menyulut api. Media sosial meniup sampai besar. Isu ini tidak berhenti di ruang redaksi. Obrolan keluarga, grup WA, sampai tongkrongan ikut membahas. Jika sudah sampai tahap itu, biasanya masalahnya bukan kecil dan bukan baru.
Biar tidak muter-muter, cerita ini dibagi jadi tiga fase. Pembagian ini bukan gaya-gayaan, tapi mengikuti pola yang kelihatan terang. Fase pertama soal penamaan masalah. Fase kedua soal tuntutan hasil. Fase ketiga soal reputasi yang diuji di level global.
Tiga fase ini saling menyiapkan. Saat fase ketiga datang, ruang untuk pura-pura kaget biasanya sudah ditutup rapat.
…
Fase 1
Oktober 2025: Gorengan berhenti dianggap risiko, lalu disebut manipulasi
Oktober 2025 menjadi titik belok. Mas Purbaya melakukan satu hal yang jarang dilakukan pejabat: menyebut masalah dengan nama aslinya. Saham gorengan tidak lagi dibungkus sebagai “risiko investasi”. Label yang dipakai adalah manipulasi.
Pilihan ini bukan soal gaya bicara. Langkah ini mematikan zona nyaman yang sudah lama dipelihara.
Penyakit paling berbahaya bukan yang langsung mematikan, melainkan yang sudah dianggap bagian dari keseharian. Begitu sesuatu disebut normal, pembela setia biasanya langsung muncul. Kalimat “dari dulu juga begitu” terdengar seperti penjelasan, padahal sering kali cuma pengakuan malas berubah.
Memori lama ikut ditarik ke permukaan: Danareksa, Asabri, Jiwasraya. Penyebutan ini bukan nostalgia. Pesannya tajam. Gorengan tidak cuma bikin ritel berdarah-darah. Institusi negara pun bisa ikut gosong kalau dibiarkan.
Respons publik datang cepat.
Percakapan meledak pada 9 sampai 11 Oktober, dengan puncak di tanggal 10. Jangkauan menembus ratusan juta. Diskusi ini keluar dari forum investor dan masuk ke ruang nasional.
Visual media memperkuat cerita. Layar indeks, wajah tegang, suasana bursa. Pesannya terang. Negara hadir. Negara tidak lagi senyum. Masalah ditunjuk langsung, tanpa kode.
Di tahap awal, simbol memang penting. Publik perlu tahu ada orang berdiri di depan, bukan sekadar baliho dan jargon.
Prinsip lama dari Deming terasa relevan di sini. Kualitas tidak bisa dibangun cuma lewat inspeksi di ujung proses (Deming, 1986). Sistem yang bocor tidak akan sembuh dengan patroli. Dilap sekali, bocor lagi.
Fase 2
November–Desember 2025: Kosmetik ditinggalkan, hasil mulai ditagih
Setelah Oktober, volume percakapan menurun. Penurunan ini bukan tanda masalah selesai. Fase sedang berganti.
Grafiknya membentuk gelombang. Naik tajam, turun, lalu naik lagi. Pola seperti ini khas untuk masalah yang ditunda-tunda. Biasanya bukan karena solusi berjalan, tapi karena publik capek mendengar janji yang sama.
November 2025 diisi dengan pengulangan pesan: gorengan harus dibereskan, otoritas harus bertindak, satgas dibentuk. Kata “satgas” terdengar akrab. Terlalu akrab. Sering diucapkan serius, difoto rapi, lalu masalahnya tetap nongkrong di tempat yang sama.
Di titik ini, publik mulai bertanya dengan nada berbeda:
“Setelah rame, lalu apa?”
Kesabaran sering disalahartikan sebagai kepasrahan. Jeda dianggap lupa. Padahal jeda sering cuma fase kumpul tenaga.
Desember membawa nada yang lebih keras. Ultimatum muncul. Insentif ditahan. Masa depan investor ritel mulai diseret ke meja.
Lonjakan percakapan di awal Desember memperlihatkan satu hal penting. Publik tidak cuma mendengar. Publik mulai menagih.
Pada fase ini, Mas Purbaya terlihat tidak tertarik lagi pada cerita proses. Rapat, slide, dan foto tidak cukup. Standar dinaikkan. Hasil diminta:
“Siapa yang ditangkap?”
Kaplan dan Norton menjelaskan bahwa apa yang diukur akan menentukan apa yang dihasilkan (Kaplan and Norton, 1992). Metrik lama dibuang. Metrik baru dipasang. Bukan berapa kali rapat, tapi apa yang benar-benar berubah.
Janji tanpa hasil terasa seperti kuitansi kosong. Ada cap dan tanda tangan, tapi barangnya tidak pernah datang.
Perubahan metrik mengubah suasana. Kenyamanan lama mulai retak. Aktivitas mendadak terlihat sibuk, meski arahnya belum tentu jelas.
Fase 3
Januari 2026: Reputasi diuji, palu bearish jatuh tanpa aba-aba
Januari 2026 mengubah skala cerita. Drama lokal naik kelas jadi tontonan global.
Narasi media terlihat rapi. Bersih-bersih gorengan berjalan beriringan dengan optimisme pasar. Tegas tapi tetap berharap. Kombinasi ini jarang dan jelas disengaja.
Lonjakan percakapan pada 2 Januari muncul bahkan sebelum krisis. Pernyataan saja sudah cukup bikin publik siaga. Isu ini matang dan tinggal menunggu pemicu.
Pemicu datang di akhir Januari. Tanggal 28–29 mengubah warna layar. Merah mendominasi. Trading halt terjadi. IHSG jatuh. Cerita kebijakan berubah jadi cerita reputasi.
Semua narasi bertemu di satu titik: kepercayaan.
Interpretasi sejak awal terasa makin jelas. Mas Purbaya menekan gorengan dengan memanfaatkan momen MSCI.
Kendali langsung tentu tidak ada. MSCI bukan alat siapa pun. Tekanan eksternal dipakai sebagai pengungkit. Palu reputasi global jatuh tepat di titik yang sejak awal disorot: manipulasi, transparansi, free float, aksesibilitas, dan trust.
Literatur market microstructure menyebut kualitas pasar sebagai konsep multidimensi (Hasbrouck, 2007). MSCI menilai dimensi yang paling tidak sabaran: kepercayaan. Dimensi ini tidak bisa ditenangkan dengan konferensi pers.
Pola penyebaran isu bekerja cepat. Media online membunyikan sirene. Media sosial memperbesar gema. Sensitivitas pasar melonjak.
Uang global bergerak sederhana. Seminar tidak menarik. FGD jarang dibaca. Begitu rasa tidak aman muncul, tombol jual ditekan. Tanpa pamit. Tanpa basa-basi. Kesadaran biasanya datang belakangan, saat ruangan terasa kosong.
Harga Paling Mahal di Pasar Modal
Perbedaan saham, timeframe, strategi, sampai guru Telegram adalah hal biasa. Satu hal seharusnya tidak ditawar: pasar modal tidak boleh berubah jadi wajan.
Pasar modal seharusnya menjadi ruang mobilitas sosial. Tempat orang kecil ikut memiliki pertumbuhan. Tempat generasi muda belajar investasi, bukan belajar trauma.
Data memperlihatkan skala masalah ini. Sebanyak 1,39 ribu percakapan dengan jangkauan 3,41 miliar menunjukkan besarnya kepercayaan yang sedang dipertaruhkan.
Mas Purbaya sedang melakukan hal yang tidak populer. Pasar didisiplinkan lewat metrik yang tidak bisa dipoles. Hasil ditagih. Insentif ditahan. Urutan reform diatur. Saat resistensi lokal berjalan lambat, tekanan reputasi global dibiarkan bekerja.
Di pasar modal, harga saham bukan aset termahal. Kepercayaan jauh lebih mahal.
Investor ritel bisa ditipu sekali, lalu pergi selamanya. Bukan karena bodoh, tapi karena kapok. Orang yang kapok jarang pidato. Aplikasi dihapus, cerita selesai.
Trauma cuan bisa muncul di usia 20 dan bertahan sampai tua. Negara kehilangan generasi pemilik aset karena ekosistem keburu rusak.
Perdebatan ini bukan sekadar soal indeks turun atau perdagangan dihentikan. Pilihannya tegas: bursa modern yang bisa dipakai naik kelas, atau pasar malam dengan lampu redup dan tangan-tangan licin mulai bergerak.
Satgas yang hanya jadi spanduk dan penindakan yang berhenti di podium akan berujung sama. Ketukan meja datang. Uang global memilih pulang.
Reputasi mirip kaca. Retak sekali, beningnya tidak kembali lewat pidato. Pasar modal jangan sampai berubah jadi wajan besar. Pihak kecil jadi adonan. Pihak besar pegang spatula. Saat gosong, semua bilang, “wes risiko.” Di titik itu, aku cuma bisa bilang, “Cuk, raimu!”
Akhirnya sampai sini, pertanyaannya tinggal satu:
Mas Purbaya sedang membersihkan pasar demi investor ritel, atau perang besar akhirnya dibuka melawan ekosistem yang selama ini kebal dan nyaman?
Wallahu ‘alam bish showab
*Santri Ndhéso, investor ritel yang kadang nyambi jadi dosen dan peneliti, yang pasti koncone Mas Purbaya.













