Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan delapan saham setelah mencatat lonjakan harga yang dinilai signifikan secara kumulatif. Kebijakan suspensi ini membuat saham-saham tersebut tidak dapat diperdagangkan hingga waktu yang akan diumumkan kemudian.
Delapan saham yang dikenai suspensi adalah PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA), PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) beserta warannya (BAIK-W), serta PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE). Selain itu, BEI juga menghentikan perdagangan saham PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS), PT Indospring Tbk (INDS), PT Magna Investama Mandiri (MGNA) beserta waran MGNA-W, serta PT Satu Visi Putra Tbk (VISI).
Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, menjelaskan bahwa suspensi dilakukan sebagai langkah perlindungan bagi investor di tengah pergerakan harga saham yang tidak wajar. Penghentian perdagangan berlaku di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada sesi I tanggal 21 Januari 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut.
“Bursa mengimbau seluruh pihak yang berkepentingan untuk mencermati dan memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh masing-masing emiten,” ujar Aji, Selasa (20/1/2026).
Salah satu saham yang menjadi sorotan adalah RLCO. Emiten sarang burung walet tersebut terus mencatat kenaikan tajam sejak melantai di BEI pada 8 Desember 2025 dengan harga IPO Rp168. Harga saham RLCO bahkan sempat menyentuh level Rp8.700 atau melonjak lebih dari 50.000 persen, melampaui kinerja saham IPO lain seperti PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
Fenomena serupa juga terjadi pada saham ZATA. Emiten sektor fesyen ini sebelumnya berada di level Rp6, kemudian melesat hingga menyentuh harga tertinggi Rp143 atau naik lebih dari 22.000 persen. Saat ini, saham ZATA diperdagangkan di kisaran Rp115.
Lonjakan saham-saham berkapitalisasi kecil ini sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah menembus level 9.000. Namun, saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 belum mampu mengimbangi kenaikan tersebut. Dalam satu tahun terakhir, IHSG tercatat naik sekitar 27 persen, sementara indeks LQ45 hanya menguat sekitar 6 persen.








