Kemiskinan Bengkulu Turun, Kini Penghasilan di Bawah Rp712 Ribu Disebut Miskin
Bengkulu – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Bengkulu pada September 2025 tercatat sebanyak 250,19 ribu orang atau sebesar 11,88 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan kondisi Maret 2025 yang mencapai 252,97 ribu orang atau 12,08 persen, atau berkurang sebanyak 2,78 ribu orang setara 0,20 persen poin.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal, menjelaskan penurunan ini menunjukkan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara umum. Namun demikian, dinamika kemiskinan masih perlu menjadi perhatian, terutama antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Pada September 2025, rata-rata Garis Kemiskinan Provinsi Bengkulu tercatat sebesar Rp712.003 per kapita per bulan. Dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin sebanyak 4,77 orang, maka besaran Garis Kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp3.396.254 per bulan.
Berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat sebesar 11,19 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 13,23 persen. Tingkat kemiskinan di perdesaan mengalami penurunan, sementara di perkotaan justru mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Dari sisi komoditas makanan, beras menjadi penyumbang terbesar terhadap Garis Kemiskinan, yakni 20,26 persen di perkotaan dan 22,09 persen di perdesaan. Komoditas lain yang memberikan kontribusi besar antara lain rokok kretek filter sebesar 12,78 persen di perkotaan dan 11,02 persen di perdesaan, cabe merah, daging ayam ras, telur ayam ras, serta ikan tongkol, tuna, dan cakalang.
Sementara itu, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap Garis Kemiskinan adalah perumahan dengan kontribusi 8,22 persen di perkotaan dan 9,42 persen di perdesaan. Selain itu, bensin menyumbang 3,99 persen baik di perkotaan maupun perdesaan, serta listrik masing-masing sebesar 2,50 persen dan 2,42 persen. Komoditas lainnya meliputi pendidikan dan perlengkapan mandi.
Win Rizal juga mengungkapkan bahwa dibandingkan Maret 2025, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada September 2025 meningkat di wilayah perkotaan namun menurun di perdesaan. Kondisi serupa terjadi pada Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), yang meningkat di perkotaan dan menurun di perdesaan. Hal ini menunjukkan kesenjangan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin di perkotaan cenderung melebar, sementara di perdesaan semakin menyempit.
BPS Bengkulu menilai data ini dapat menjadi rujukan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih terarah sesuai karakteristik wilayah.

Komentar (0)